News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Si DuDi dan DiDu

Si DuDi dan DiDu

Pendahuluan

Peran si Dudi dan DiDu untuk mencapai Visi dan tujuan pendidikan di sekolah sangat penting. Apabila tujuan pendidikan di sekolah telah tercapai, secara tidak langsung tujuan Pendidikan Nasional pada Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistim Pendidikan Nasional telah terpenuhi. Dimana pada Undang-Undang No. 20 tahun 2003 pasal 3 disebutkan bahwa pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi Warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Tujuan pendidikan tersebut salah satu cara untuk mencapainya melalui proses pembelajaran di sekolah. Suatu lembaga pendidikan dalam hal ini sekolah dikatakan berhasil dalam mencapai tujuan pendidikan dapat diketahui dari apa yang dihasilkan (out put) dari sekolah tersebut. Contoh mudahnya yaitu, lulusan yang dihasilkan memiliki karakter yang baik dan mampu bersaing dengan sekolah lain untuk masuk sekolah unggulan pada jenjang yang lebih tinggi.

Keberhasilan dalam mencapai tujuan salah satu variabel yang sangat menentukan adalah kompetensi Si DuDi dan DiDu dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengelola. Sesuai dengan standar kompetensi yang diharapkan pada Permendiknas No. 13 tahun 2007, yaitu:
1) Kompetensi Kepribadian,
2) Kompetensi Manajerial,
3) Kompetensi Kewirausahaan,                     
4) Kompetensi Supervisi, dan
5) Kompetensi Sosial.

Untuk mewujudkan Si Dudi dan DiDu memiliki kompetensi  tersebut berdasarkan Permendikbud No. 6 tahun 2018 tentang Penugasan Guru sebagai Kepala Sekolah/Madrasah mengamanatkan perlunya sistem rekrutmen dan pembinaan karir Kepala Sekolah/Madrasah agar diperoleh Kepala Sekolah/Madrasah yang kredibel dan berkompeten. Pengangkatan Kepala Sekolah/Madrasah harus didasarkan atas prosedur dan peraturan-peraturan yang berlaku, dirancang dan ditentukan oleh suatu lembaga yang bertanggungjawab dalam bidang penyiapan calon Kepala Sekolah/Madrasah.

Pemerintah mendelegasikan tugas tersebut kepada Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Kepala Sekolah (LPPKS) di Solo Provinsi Jawa Tengah sebagai pusatnya penyelenggaraan kegiatan. Untuk Provinsi Sumatera Utara kegiatan penyiapan calon Kepala Sekolah/Madrasah dan penguatan didelegasikan pada Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan Provinsi Sumatera Utara.

Pembahasan

Pada pembahasan ini fokus pada 2 hal penting yang wajib diketahui oleh si Dudi dan Didu dalam melaksanakan tugasnya, yaitu:
1. Pendidikan dan Pelatihan
Berdasarkan Permendikbud No.6 tahun 2018, si Dudi wajib mengikuti dan lulus pendidikan dan pelatihan penguatan Kepala Sekolah dengan lama pelatihan selama 71 JP. Sedangkan si Didu wajib mengikuti dan lulus pendidikan dan pelatihan calon Kepala Sekolah dengan lama pelatihan selama 300 JP. Lama pelatihan yang diikuti oleh Dudi dan Didu memang sangat berbeda dari segi durasi waktu tetapi dari segi materi yang disajikan hampir sama, hal ini didasari oleh Dudi pada saat mengikuti diklat sudah mengemban tugas tambahan sebagai Kepala Sekolah, sedangkan Didu belum.

Adapun model pendidikan dan pelatihan yang diikuti si Didu, yaitu:
  1. In Service Learning I yaitu pembelajaran melalui kegiatan tatap muka selama 70JP,
  2. On the job Learning yaitu pembelajaran di sekolah dalam situasi pekerjaan yang nyata. Kegiatan pembelajaran di sekolah sendiri (150JP) dan di sekolah magang selama 50JP,  dan
  3. In Service Learning II yaitu untuk mempresentasikan dan merefleksi hasil On the job learning selama 30 JP.

Setelah mengikuti diklat dan dinyatakan lulus, maka si Dudi dan Didu akan memperoleh STTPP (Surat Tanda Tamat Pendidikan dan Pelatihan) dan NUKS (Nomor Unik Kepala Sekolah). Dengan demikian diharapkan dan diyakini bahwa Dudi dan Didu adalah benar-benar berkompeten untuk mengemban tugas tambahan sebagai Kepala Sekolah.

2. Pemahaman kompetensi Kepala Sekolah
Kompetensi si Dudi dan Didu sebagai Kepala  Sekolah menurut Permendikbud No 13 tahun 2007 harus menjadi perhatian utama. Pemahaman Dudi dan Didu tentang kompetensi Kepala Sekolah pasti sangat berbeda. Apabila diadakan analisis berdasarkan hasil instrument AKPK (Analisis Kebutuhan Pengembangan Keprofesian) terhadap si Dudi pemahaman kompetensinya pasti sangat didominasi oleh Kompetensi Kepribadian, Sosial, dan Kewirausahaan sedangkan pemahaman untuk kompetensi Manajerial dan Supervisi sangat minim. Pemahaman terhadap kompetensi ini pasti berbeda dengan si Didu, apabila diberikan instrument yang sama pasti hasilnya lebih baik dari si Dudi.
Adapun dasar yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kompetensi si Dudi dan Didu adalah dua hal penting yang diuraikan di atas. Hal tersebut juga diperkuat oleh Permendikbud No.6 tahun 2018 tentang Penugasan Guru sebagai Kepala Sekolah menyatakan guru yang diberi tugas tambahan sebagai kepala sekolah wajib mengikuti diklat penguatan atau calon kepala sekolah dan dinyatakan lulus serta mendapatkan STTPP dan NUKS.
Apabila Dudi dan Didu telah mendapatkan STTPP dan NUKS, maka dalam melaksanakan tugasnya wajib memahami dan melaksanakan apa yang tertulis pada Permendikbud No 15 tahun 2018 tentang Pemenuhan Beban Kerja Guru, Kepala  Sekolah, dan Pengawas Sekolah, dilampirkan rincian ekuivalensi beban kerja Kepala Sekolah, Yaitu:
a) Manajerial, rincian tugas meliputi:
I. Merencanakan Program Sekolah
II. Mengelola Standar Nasional Pendidikan (SKL, Isi, Proses, Penilaian, PTK, Sarpras, Pengelolaan, dan Pembiayaan)
III. Melaksanakan Pengawasan dan Evaluasi
IV. Melaksanakan Kepemimpinan Sekolah, dan
V. Mengelola Sistem Informasi Manajemen Sekolah
b) Pengembangan Kewirausahaan, rincian tugas meliputi:
I. Mengembangkan program pengembangan kewirausahaan
II. Melaksanakan program pengembangan kewirausahaan
III. Melaksanakan evaluasi program pengembangan kewirausahaan
c) Supervisi Kepada Guru dan Tenaga Kependidikan, rincian tugas meliputi:
I. Merencanakan program supervisi guru dan tenaga kependidikan
II. Melaksanakan supervisi guru
III. Melaksanakan supervise terhadap tenaga kependidikan
IV. Menindaklanjuti hasil supervisi terhadap guru dalam rangka peningkatan profesionalisme guru.
V. Melaksanakan evaluasi supervisi guru dan tenaga kependidikan
VI. Merencanakan tindak lanjut hasil evaluasi dan pelaporan pelaksanaan tugas supervisi kepada guru dan tenaga kependidikan.

Kesimpulan

Berdasarkan uraian di atas, sudah jelas bahwa si Dudi dan Didu merupakan salah satu kunci keberhasilan pendidikan di Sekolah. Latar belakang Dudi dan Didu memang berbeda, Dudi (Duduk Diklat) sudah mengemban tugas tambahan sebagai Kepala Sekolah tetapi wajib mengikuti diklat, yaitu diklat penguatan Kepala Sekolah. Sedangkan Didu (Diklat Duduk) mengikuti diklat calon Kepala Sekolah untuk nantinya diberikan tugas tambahan sebagai Kepala  Sekolah. Hal ini berdasarkan Permendikbud No 6 tahun 2018.

Pada Permendikbud tersebut mengamanatkan setiap Kepala Sekolah/calon Kepala Sekolah wajib mengikuti pendidikan dan pelatihan sesuai model pendidikan dan pelatihan yang disusun oleh pihak penyelenggara yaitu LPPKS dan LPMP, dengan tujuan untuk meningkatkan dan menambah pemahaman terhadap kompetensi Kepala Sekolah/calon Kepala Sekolah, memilih dan memilah Kepala Sekolah/calon Kepala Sekolah yang lebih berkompeten.

STTPP, NUKS, dan pemahaman kompetensi Kepala Sekolah memang sangat diperlukan oleh Dudi dan Didu, namun itu hanya prasyarat yang harus dimiliki oleh mereka.  Di samping itu kunci utama untuk melaksanakan tugas tambahan sebagai Kepala Sekolah adalah adanya kemauan untuk belajar serta komit dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya. Semoga…
Oleh: Edward Sinaga, S.Pd., M.Pd (Guru SD Negeri 091341Bintang Mariah Kec.Dolog Masagal)

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.