News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Boyke Nainggolan, Perwira dari Sumut yang Cerdas Luar Biasa

Boyke Nainggolan, Perwira dari Sumut yang Cerdas Luar Biasa


BOYKE Nainggolan seorang perwira Batak Toba dan dianggap sebagai salah seorang perwira tempur Angkatan Darat terbaik,” tulis Audrey Kahin dan George McTurnan Kahin dalam Subversi sebagai Politik Luar Negeri: Menyingkap Keterlibatan CIA di Indonesia.

Boyke Nainggolan seorang Perwira Batak Toba, yang kematiannya meninggalkan jejak misteri. Tak ada yang mengetahui akhir kehidupannya saat ia menjadi Wakil Direktur Pertamina cabang Sumatera Timur.

Di bawah menara radio dekat perumahan Pertamina di Medan, tubuhnya tergeletak tak bernyawa. Menurut dugaan yang berkembang, penyebab kematiannya adalah karena bunuh diri. Dugaan itu tak memuaskan penasaran sang ayah.

Lantas ayahnya, Dr Nainggolan mendesak untuk menyelidiki kematiannya, namun saat itu pemerintah menghalangi jalannya. Dengan berat hati, Boyke dimakamkan di Berastagi.

Meskipun kematiannya tragis, tapi Boyke Nainggolan semasa hidupnya adalah seorang perwira tempur Angkatan Darat terbaik di Medan. Sejak ibu dan saudari-saudarinya terbunuh, ia mempunyai trauma secara psikologis pada daerah Berastagi, sebuah dataran tinggi di Kabupaten Karo, Sumatera Utara.

Karena disanalah tempat ibu dan saudari-saudarinya terbunuh. Seperti yang dikisahkan Takao Fusayama dalam A Japanese Memoir of Sumatra, 1945-1946: Love and Hatred in the Liberation War. Ibu dan adik perempuan Boyke telah menjadi korban revolusi sosial pada tahun 1946, di Berastagi karena dianggap menjadi bagian dari bangsawan feodal.

Diperkirakan, keduanya terbunuh oleh sebuah kelompok bersenjata di masa Indonesia merdeka, yaitu laskar Pesindo.

Dalam memoar Jenderal dari Pesantren Legok (2002), Achmad Tirtosudiro yang sama-sama berangkat ke Fort Leavenworth bersama Boyke Nainggolan, menuliskan bahwa Boyke adalah “laki-laki yang labil terkait kisah lalu nan sedih keluarganya.
Tak lantas tenggelam dalam kisah lalunya, dari situlah karir militer Boyke justru diawali. Sebagai opsir PETA (Pembela Tanah Air), di masa revolusi, Boyke bergabung ke dalam tentara sukarela Korps Pasukan Kelima dengan pangkat letnan dua.

Pasukan Kelima adalah cabang khusus laskar Pesindo (Pemuda Sosialis Indonesia), yang kebetulan Wakil Komandan I Pasukan Kelima adalah ayahnya sendiri dr Nainggolan.

Selepas pengakuan kedaulatan Indonesia, karirnya diakui dengan diangkat sebagai opsir berpangkat mayor Tentara Nasional Indonesia (TNI). Ia kemudian dipercaya menjadi Komandan Batalyon Pengawal untuk Kota Medan oleh Komandan Teritorium I Bukit Barisan Kolonel Maludin Simbolon. Di jajaran TNI, dirinya dikenal sebagai perwira yang brilian.

Terbukti dengan terpilihnya Boyke, menjadi salah satu dari dua perwira yang direkomendasikan Markas Besar Angkatan Darat (MBAD) untuk mengikuti pendidikan General Staff and Command College, sekolah staf dan komando di Fort Leavenworth, Kansas, Amerika Serikat (AS) pada awal 1956.
“Mayor Nainggolan merupakan perwira dari Sumatera Utara yang cerdas luar biasa! Kecerdasannya sudah diakui oleh banyak pimpinan AD,” kesan Ventje Sumual terhadap Boyke dalam Memoar Ventje Sumual.

Namun, Boyke yang “apolitis” ini terprovokasi sejumlah seniornya untuk membelot dan terlibat dalam gerakan PRRI, usai pendidikannya di Amerika Serikat saat kembali ke Medan. “Ia seorang yang amat berdarah panas seperti sebuah bola api,” tulis Takao Fusayama dalam A Japanese Memoir of Sumatra, 1945-1946: Love and Hatred in the Liberation War.

Sebagai Wakil Kepala Staf Teritorium I Bukit Barisan, Boyke sang perwira penting ini menjadi pemimpin Operasi bersandi “Sabang-Merauke” pada 15 Maret 1958.

Operasi militer pertama yang mendukung Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) ini mengkudeta komandan pro-Jakarta di Medan, Letnan Kolonel Djamin Ginting yang harus menyingkir hingga ke Tanah Karo. Saat itu, Kota Medan dikuasai.
Lapangan udara AURI Polonia direbut pasukan lapis baja dan semua pesawat terbang di landasan porak-poranda. Stasiun Radio Republik Indonesia (RRI) turut diambil alih. Pasukan dikumpulkan dan disiagakan.

Semua perlengkapan, persenjataan dan amunisi, termasuk juga 25 kendaraan lapis baja, dipersiapkan hingga membuat situasi Ksatrian Batalion 131 di Jalan Jakarta (kini Jalan Imam Bonjol) sibuk luar biasa. Kolonel Maludin Simbolon yang terlebih dahulu bergabung dengan PRRI, sempat menjalin korespondensi dengan Boyke

Secara gamblang, ia menjelaskan perjuangan PRRI adalah untuk membangun daerah dan melawan pengaruh komunisme yang semakin melilit pemerintah pusat, seperti dikisahkan dalam buku Kolonel Maludin Simbolon: Liku-liku Perjuangannya dalam Pembangunan Bangsa karya Payung Bangun.

Namun, karena pergolakan yang terjadi, pemerintah pusat di Jakarta memutuskan untuk menghadapi gerakan PRRI dengan aksi militer. Pada akhirnya PRRI berakhir di tahun 1961.

Keterlibatan Boyke dengan PRRI ini pun dijadikan bukti, bahwa ia adalah musuh pemerintah yang dijadikan buruan TNI. Namun, sebagai bentuk kompromi, para pimpinan militernya direhabilitasi oleh rezim Sukarno.

Perbuatan Boyke Nainggolan yang merupakan perwira menengah, Simbolon dan Mayor Sahala Hutabarat dimaafkan dengan syarat diberhentikan dari TNI.
Mereka lantas dikaryakan ke beberapa perusahaan milik pemerintah. Boyke sesungguhnya seorang perwira yang lurus. Sikap itu diperlihatkannya jauh sebelum terlibat dalam PRRI di tahun 1950. Pada suatu hari, mobil yang dikendalikannya menabrak seorang anak yang tengah bersepeda di tengah Kota Medan.

Tak dibiarkan, ia membawa anak tersebut ke rumah sakit, lantas mengontak kantor CPT (Corps Polisi Tentara) setempat dan meminta para petugas CPT datang untuk menangkapnya. “Padahal anak itu cuma lecet-lecet biasa saja,“ kenang almarhum Sukotjo Tjokroatmodjo, eks perwira CPT yang ditugaskan “menangkap” Boyke. (tn/int)

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.